BANDAR LAMPUNG — Besarnya realisasi belanja bahan cetak di lingkungan BPPRD Kota Bandar Lampung mulai memantik kecurigaan publik. Hingga 20 Mei 2026, anggaran belanja alat dan bahan kegiatan kantor di instansi tersebut tercatat telah terserap mencapai Rp845.619.780 dari total pagu sekitar Rp1,8 miliar.
Yang menjadi sorotan bukan hanya besarnya angka, tetapi juga pola pengadaan yang dinilai janggal karena didominasi vendor tertentu yang namanya terus muncul dalam berbagai paket proyek.
Publik pun mulai mempertanyakan: apakah pengadaan ini benar-benar berjalan secara kompetitif, atau justru ada “gurita vendor” yang menguasai proyek cetak di BPPRD Bandar Lampung?
Dari data pengadaan yang beredar, nama Karya Perdana tampak mendominasi sejumlah proyek bahan cetak dengan nilai ratusan juta rupiah.
Berikut beberapa rincian belanja yang menjadi sorotan:
Bahan Cetak – Karya Perdana
Amplop Dinas Linen 24 x 11 — Rp131.310.500
Bahan Cetak – Karya Perdana
Rp69.930.000
Bahan Cetak – Karya Perdana
Rp30.559.965
Bahan Cetak – Karya Perdana
Rp34.164.000
Bahan Cetak – Karya Perdana
Rp28.080.000
Selain itu, terdapat pula pengadaan dari vendor lain seperti:
Pratama Mandiri — Rp56.260.543
Pratama Mandiri — Rp42.818.250
Kandita — Rp115.495.500
Tawakal — Rp74.925.000
Namun dominasi vendor tertentu membuat publik mulai mempertanyakan pola distribusi proyek pengadaan di lingkungan BPPRD.
“Kalau vendor yang muncul itu-itu terus, wajar publik curiga. Apalagi nilainya besar dan berkaitan dengan uang pajak masyarakat,” ujar seorang aktivis pemerhati anggaran daerah di Bandar Lampung.
Amplop Premium Rp131 Juta Tuai Kritik
Sorotan paling tajam mengarah pada pengadaan Amplop Dinas berbahan Linen senilai lebih dari Rp131 juta.
Jenis kertas linen dikenal sebagai material premium yang biasa digunakan untuk undangan eksklusif atau dokumen formal berkelas.
Karena itu, penggunaan bahan tersebut untuk amplop dinas pemerintah dianggap sebagian pihak sebagai bentuk pemborosan anggaran.
“Di tengah seruan efisiensi dan digitalisasi, kenapa justru belanja amplop premium yang diprioritaskan?” kata seorang warga.
Belanja Komputer Fantastis Ikut Dipertanyakan
Tak hanya proyek cetak, publik juga dibuat heran dengan anggaran Belanja Modal Personal Computer yang nilainya mencapai Rp1.227.450.865 untuk delapan paket pengadaan.
Beberapa perangkat yang tercantum antara lain:
Acer Veriton Z4 AIO Core i7
Printer Epson Ecotank
Notebook/Laptop Hybrid Asus ROG G531 GT
Penggunaan perangkat seri Asus ROG yang identik dengan laptop gaming memunculkan tanda tanya di kalangan masyarakat.
“Apakah kebutuhan kantor pajak daerah memang memerlukan laptop gaming? Ini perlu dijelaskan secara terbuka,” ujar seorang pengamat kebijakan publik.
Dengan sisa anggaran yang masih cukup besar hingga akhir tahun, desakan agar dilakukan audit terhadap pola pengadaan di BPPRD Bandar Lampung semakin menguat.
Masyarakat meminta aparat pengawas internal, lembaga audit, hingga penegak hukum untuk memeriksa transparansi proses pengadaan, termasuk mekanisme penunjukan vendor dan urgensi belanja bernilai jumbo tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak BPPRD Kota Bandar Lampung belum memberikan klarifikasi resmi terkait dominasi vendor dalam proyek bahan cetak maupun alasan pengadaan amplop premium dan perangkat komputer spesifikasi tinggi tersebut. (Red)








